Turin, IT - 19 °CMostly Cloudy - Humidity: 37%

[50 Legends] Giampiero Boniperti : Legenda 34 Tahun Pengabdian

By EG - Thu Feb 23, 12:42 am

Bagi kita Juventini sejak tahun 90-an hampir dapat dipastikan menganggap Del Piero sebagai dewa, pe-sepakbola  sempurna yang pernah sedang bermain bagi Juventus. Namun bagi mereka di era 40 – 60 an pahlawan mereka saat itu adalah Giampiero Boniperti. Bahkan di akhir tulisan ini mungkin Anda akan setuju dengan Saya, bahwa pencapaian Boniperti jauh lebih komplit dari pada apa yang sudah dicapai Del Piero, paling tidak hingga artikel ini ditulis.

Tidak mudah menceritakan kisah legendaris Boniperti. Satu, karena kami tidak pernah sekalipun melihatnya bermain di lapangan. Dua, teknologi informasi pada masa itu tidak semaju sekarang, tentunya banyak kisah hebat Boniperti yang tidak terdokumentasi dengan baik. Namun hal ini merupakan tantangan sekaligus kehormatan bagi Kami, meski dengan data & fakta seadanya pun kami bisa menyimpulkan bahwa Boniperti adalah pemain hebat, panutan baik di dalam maupun di luar lapangan serta memiliki kecintaan dan loyalitas tanpa batas kepada Juventus. A Legendary Legend!

Giampiero Boniperti lahir pada tanggal 4 Juli 1928 di sebuah kota kecil bernama Barengo (dekat Novara), provinsi Piedmont. Seperti kebanyakan anak-anak yang lahir di provinsi Piedmont, Boniperti tumbuh besar sambil mengagumi Juventus. Saat kecil Boniperti gemar mengenakan pakaian dengan kerah yang berlogo-kan Juventus dan selalu bermimpi untuk dapat bermain bagi La Vecchia Signora. Kesempatan dan bakat adalah dua resep sukses yang berhasil diterapkan Boniperti dengan sangat baik. Sebelum bergabung dengan Juventus pada usia 16 tahun (1944), Boniperti sudah cukup tenar karena pernah dalam satu pertandingan mencetak 11 gol. Kemudian saat try-out (uji coba) dengan Juventus, Boniperti langsung mencetak 7 gol. Salah seorang reporter yang hadir dalam pertandingan tersebut kemudian menulis “A boy wonder is born to Juve“Seorang Anak ajaib lahir untuk Juve”. Prestasi ini memberikan Boniperti keistimewaan untuk tetap berlatih & bergabung dengan Juventus.

Debut Boniperti sebagai seorang Bianconero resmi dilakoni pada tanggal 2 maret 1947 (saat itu Boniperti berusia 18 tahun) pada saat Juventus menghadapi AC Milan. Debut ini tidak berjalan manis karena Juve kalah dengan skor 2-1. Gol pertama Boniperti bagi Juve dicetak 3 bulan kemudian saat menghadapi Sampdoria. Di musim perdana Boniperti (1946-1947) Juventus finish di posisi runner-up, scudetto musim itu diraih oleh Torino. Meski gagal mempersembahkan scudetto, Boniperti memulai karirinya dengan sangat baik, bermain sebanyak 6 laga Boniperti berhasil mencetak 5 gol.

Mungkin sudah garisan takdir, pada awal perjalanan karir profesionalnya Boniperti bertemu dengan orang-orang hebat. Pelatih Juventus pada awal karir Boniperti ini adalah Renato Cesarini yang merupakan pemain penting Juve di era 30-an. Selama 6 musim membela Juventus, Cesarini menyumbangkan 5 gelar scudetto secara berturut-turut (1930-1931 s/d 1934-1935). Bukan hanya itu, usai pensiun Cesarini menjadi pelatih di liga Argentina, menyumbangkan 2 gelar liga saat melatih River Plate dan diakui sebagai salah satu terbaik sepanjang masa yang pernah melahirkan permainan terbaik di Amerika Selatan. Kesuksesan ini lah yang membuat Juventus mempercayakan posisi pelatih kepada Cesarini pada musim 46-47 atau pada musim perdana Boniperti. Bukan hanya Cesarini, tokoh lain yang tidak kalah penting adalah President Juventus saat itu, Gianni Agnelli Il Avvocato! Dua tokoh inilah yang berperan penting pada awal perjalanan karir Boniperti.

Perjuangan Boniperti di awal karirinya dengan Juventus tidaklah mudah. Usai Perang Dunia kedua 1943-1945 Torino semakin menjelma menjadi kekuatan baru di Serie A. Mereka menguasai liga dengan meraih scudetto 4 musim berturut-turut (1945-46 s/d 1948-49) bahkan bisa dikatakan 5 musim berturut-turut karena musim 1942/43 sebelum World War 2, Torino juga keluar sebagai juara. Rasanya ada yang kurang jika menceritakan tentang Boniperti tanpa menyertakan kisah tentang Il Grande Torino.  Era 40-an bisa dikatakan adalah milik Torino. Bukan hanya dari torehan 5 scudetto mereka, sebagian besar rekor Serie A masih dipegang oleh Torino hingga saat ini. Dibawah kepemimpinan legenda mereka saat itu Valentino Mazzola, Torino menjelma menjadi tim yang menakutkan. Gaya permainan super-offensive dengan mengandalkan formasi 4-2-4 Torino menghancurkan hampir semua tim di Serie A saat itu. Bahkan ada kisah menarik, apabila pada babak kedua Mazzola sudah menyingsingkan lengan baju maka itu adalah kode / tanda bahwa Torino harus menyerang musuh mereka dari segala arah. Sayang sekali akhir dari kebesaran Totino ini harus berakhir dengan pahit dan sangat tragis. Usai memastikan gelar juara musim 1948-49, Torino menggelar pertandingan persahabatan dengan Benfica di Lisbon Portugal. Saat perjalanan pulang, pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan hingga menabrak Gunung Superga di dekat Turin. Seluruh pemain, pelatih & staff Torino meninggal dalam kecelakaan itu. Kejadian ini meninggalkan duka mendalam bagi warga Italia, khususnya warga Torino. Nasib Torino mungkin tidak akan seperti saat ini, karena rata-rata usia pemain mereka saat itu masih sekitar 25 – 29 tahun.

Dominasi Torino tentu saja membuat Juventus memasuki salah satu periode paling kelam. Terakhir kali Juventus memenangkan gelar Serie A adalah pada tahun 1935, atau 12 tahun sebelum Boniperti melakukan debut. Boniperti sendiri tidak mampu mempersembahkan gelar apa-apa pada musim kedua (47/48) & ketiga (48/49) nya bersama Juventus, namun dalam dua musim ini masing-masing Boniperti menyumbangkan 27 & 15 gol. 27 Gol Boniperti pada musim 47/48 menobatkannya sebagai top scorer dengan mengalahkan bintang Torino Valentino Mazzola.

Layaknya pepatah yang mengatakan “Di setiap masa-masa sukar akan lahir seorang pahlawan” Boniperti yang masih muda muncul mencuri perhatian Italia. Di saat seluruh negeri tengah dirundung duka yang mendalam, Boniperti yang sudah memasuki musim ke-empatnya semakin matang dan berhasil mempersembahkan gelar Scudetto pertama bagi Bianconeri. Pada musim ini Boniperti menjadi inspirator dengan didukung oleh John Hansen. Kombinasi John Hansen (Sayap Kiri asal Denmark) dan Boniperti menghasilkan 49 gol pada musim tersebut. Boniperti sendiri yang bermain sebagai penyerang berhasil menyumbangkan 21 gol dalam 35 pertandingan. Scudetto pada musim 49/50 ini adalah Scudetto ke-delapan bagi Juventus dan disaat itu Boniperti dkk dilatih oleh satu-satunya Pelatih asal Inggris yang pernah melatih Juve hingga saat ini, yaitu Jesse Carver. Pada saat itu metode latihan pemain sepakbola belum semaju saat ini. Latihan hanya difokuskan dengan berlari dengan tujuan meningkatkan kualitas fisik pemain. Jesse Carver diakui sebagai salah seorang yang mempelopori inovasi tentang skill, kemampuan atletis dan pengetahuan / teori sepak bola serta memulai kebiasaan menggunakan bola dalam sesi latihan.

Musim berikutnya (50/51) Boniperti dkk gagal mengulangi kesuksesan. Gelar juara berhasil direbut Milan sementara Juventus hanya mampu finish di posisi ketiga. Boniperti sendiri menyumbangkan 22 gol dalam 38 pertandingan musim itu. Baru pada musim berikutnya (51/52) Juventus kembali meraih gelar Scudetto yang merupakan gelar ke sembilan. Musim itu kombinasi Boniperti & John Hansen masing-masing mencetak 19 & 30 gol dimana John Hansen meraih gelar Capocannonieri. Kemudian Juventus sempat puasa gelar selama 5 musim dimana Scudetto secara berurutan direbut oleh inter, inter, Milan, Fiorentina & Milan.

Hal ini mendorong President saat itu Umberto Agnelli (Ayah dari Andrea Agnelli, President Juventus saat ini) untuk mendatangkan dua orang penyerang baru yaitu Omar Sivori dan John Charles. Dua nama ini kemudian juga masuk dalam daftar 50 Legenda Juventus dan kisah mereka akan kami ceritakan secara khusus dalam edisi yang lain. Kombinasi Boniperti, John Charles dan Omar Sivori saat itu dikenal dengan sebutan “The Magical Trio” berkat kombinasi mematikan yang dihasilkan oleh ketiga pemain ini.

Now lets talk about this Magical Trio!. Musim 57/58 saat Omar Sivori & John Charles bergabung dan membentuk trident dengan Boniperti Juventus memulai kompetisi dengan luar biasa, 6 kemenangan beruntun.  Magical trio ini diakui sebagai lini depan paling efektif dan menakutkan yang  mendemonstrasikan kualitas dan kemampuan menebar teror di barisan pertahanan lawan. Dalam 4 musim sebelumnya Juventus hanya berhasil mencetak total 235 gol, atau rata-rata hanya 59 gol per tahun. Produktifitas gol Juve lalu meningkat dengan sangat tajam usai lahirnya Trident Magical Trio. Musim 57/58 Juventus mencetak 96 gol dimana 60.42% atau 58 gol dicetak oleh The Magical Trio. Charles 28, Sivori 22 & Boniperti hanya 8 gol. Mengapa gol Boniperti hanya 8? Di sini lah karakter Boniperti kembali teruji. Dengan datangnya Omar & John, otomatis Boniperti harus bergeser dari posisi penyerang ke posisi play maker yang melayani duet Omar & John. Meski demikian, tidak pernah sekalipun Boniperti mengeluh harus pindah posisi demi mengakomodasi penyerang yang lebih muda. Bagi Boniperti kepentingan tim jauh lebih penting daripada ambisi pribadi.

Berkat gol-gol dari The Magical Trio di lini depan, Juventus berhasil meraih scudetto musim 1957/58 yang merupakan scudetto ke sepuluh bagi Juventus. Artinya Boniperti berhasil mempersembahkan satu bintang di logo Juventus. Musim berikutnya Juve gagal di ajang Serie A  setelah hanya berhasil finish di posisi ke empat. Meski lini depan Juventus saat itu berhasil mencetak 74 gol, namun kualitas lini belakang yang buruk membuat Juve kebobolan 54 gol musim itu. Scudetto pun direbut oleh Milan. Meski demikian, Boniperti berhasil menyumbangkan gelar Copa Italia musim itu yang merupakan gelar Copa ketiga bagi Juventus. Baru pada dua musim berikutnya 59/60 dan 60/61 Boniperti dkk berhasil menyumbangkan 2 gelar scudetto berturut-turut. Magical Trio kembali berperan penting dalam sukses dua musim ini di Serie A, dimana Juventus berhasil mencetak  masing-masing 91 & 95 gol pada kedua musim tersebut. Belum lagi ditambah dengan gelar Coppa ke empat bagi Juve pada musim 59/60.

Usai memenangkan gelar scudetto kelima nya bagi Juventus pada musim 60/61 ini, Boniperti memutuskan untuk pensiun. Saat itu Boniperti masih berusia 33 tahun, usia yang masih tergolong muda. Boniperti bisa saja memilih untuk pindah ke tim lain dengan persaingan yang lebih rendah. Namun Boniperti menunjukkan kelasnya dengan memilih pensiun dengan seragam Juventus. Total selama 15 tahun karirnya bersama dengan Juve, Boniperti telah bermain sebanyak 444 pertandingan dan mencetak 178 gol di Serie A. Di semua ajang Boniperti mencetak 182 gol dalam 460 pertandingan. Rekor ini bertahan selama +/- 40 tahun sebelum dipecahkan oleh Seorang Pemain yang direkrut sendiri oleh Boniperti.

(kiri ke kanan) Gianni Agnelli, Vittorio Chiusano, Giampiero Boniperti dan Umberto Agnelli

10 tahun setelah Boniperti pensiun, kecintaannya kepada Juventus membuatnya kembali dan menduduki jabatan President sejak tahun 1971. Dalam masa kepemimpinannya, Boniperti beberapa kali menunjuk pelatih-pelatih terkemuka seperti Čestmír Vycpálek, Carlo Parola dan Giovanni Trapattoni. Tidak hanya itu, banyak pemain-pemain besar yang direkrut pada masa kepemimpinan Boniperti, sebut saja Claudio Gentile, Paolo Rossi, Gaetano Sciera, Sergio Brio, Marco Tardelli, Antonio Cabrini, Stefano Tacconi hingga Michele Platini. Nama-nama ini hanya mereka yang masuk dalam daftar 50 Legends. Dibawah 19 tahun kepemimpinan Boniperti sebagai President, Juventus meraih kejayaan baik di level domestik maupun eropa. Total 9 Scudetto, 4 Copa Italia diraih bersama dengan 1 Piala Champions, 1 Piala Winners, 2 UEFA Cup, 1 UEFA Super Cup & 1 Intercontinental Cup dipersembahkan Boniperti dari kursi President hingga tahun 1990.

Namun masih ada satu hadiah terakhir yang dipersembahkan Boniperti kepada Juventus. Dalam autobiography-nya yang berjudul ‘Una vita a testa alta’, Boniperti menyebut bahwa Alessandro Del Piero adalah hadiah terakhirnya bagi Juventus. Pada tanggal 28 juni 1993, Boniperti yang berkedudukan sebagai President Kehormatan Juve (hingga saat ini) menyelesaikan proses transfer dengan Padova hanya dalam waktu 24 jam. Proses negosiasi harus dilakukan dengan cepat karena Fiorentina dan Milan juga tertarik kepada Del Piero. Saat Del Piero pertama kali tiba di Turin, Boniperti mengajak Del Piero ke Ruang Trofi (Throphy Room) Juve dan bertanya kepada Del Piero “Apakah Engkau melihat betapa banyak Piala yang sudah kami menangkan? Saya harap Engkau dapat menyumbangkan lebih banyak lagi untuk Juventus.” Setelah itu Del Piero langsung menandatangani sebuah kontrak kosong.

15 tahun sebagai pemain & 19 tahun sebagai President adalah total pengabdian Boniperti bagi Juventus. Bahkan Boniperti menghadiahkan seorang Del Piero untuk memastikan kejayaan Juventus selama dua dekade ke depan. Rekor Boniperti sebagai pencetak gol terbanyak dan pemain yang paling banyak membela Juve yang telah bertahan selama kurang lebih 45 tahun memang telah dilewati oleh Del Piero. Namun untuk menyamai level Boniperti, masih banyak ujian yang harus dilewati Del Piero.

Pribadi Boniperti yang rendah hati tidak berlaku di dalam lapangan. Ada sebuah kalimat khas yang menjadi ciri khas Boniperti hingga saat ini. Kalimat ini juga diucapkan oleh Boniperti saat Pembukaan Juventus Stadium, dimana saat itu Boniperti & Del Piero dua legenda dari Dua era berbeda diberi kesempatan untuk menyambut kita semua ke dalam Juventus Stadium, tanpa akan segera dimulainya sebuah era yang baru.

“Alla Juventus vincere non è importante. È l’unica cosa che conta.”
“Bagi Juventus kemenangan tidak saja penting, tapi adalah satu-satunya hal yang berarti.”
Giampiero Boniperti

“Saya hidup untuk Juventus sejak 4 juni 1946 dan masih berdiri di sini setelah 65 tahun untuk merangkul kita semua serta mengingat bahwa bagi Juventus kemenangan tidak saja penting, tapi adalah satu-satunya hal yang berarti.” Boniperti saat peresmian Juventus Stadium

Seperti kebanyakan legenda-legenda Juve lainnya, Juventus selalu dikaitkan dengan kemenangan. Kutipan dari Boniperti diatas menggambarkan dengan sempurna bahwa menang tidak saja penting namun adalah kewajiban bagi Juventus.

Kini Boniperti telah berusia 84 tahun dan masih menjabat sebagai salah satu President Kehormatan (Honorary President) Juventus. Filippo Boniperti cucu dari Giampiero Boniperti yang baru berusia 21 tahun kini bermain untuk Carpi FC setelah dipinjamkan oleh Juventus pada winter mercato Januari lalu. Apakah kebesaran nama Boniperti akan terulang lagi di Juventus? Kita tunggu saja.

11 Comments

Comments -49 - 0 of 11First« PrevNext »Last
  1. Sedikit mau sharing, ada cerita mengharukan dari Boniperti yang berhubungan dengan Liam Brady, seorang pemain Irlandia yang amat disayangkan tidak masuk dalam list 50 Legenda Juventus.

    Liam Brady yang saat itu merupakan favorit para tifosi digosipkan akan dijual karena Juventus akan membeli Boniek (Polandia) dan Platini (Prancis). Kala itu di Italy, satu tim hanya boleh memiliki 2 pemain non Italy. Brady yang berasal dari Irlandia harus disisihkan demi mengakomodasikan Platini dan Boniek. Presiden Juventus saat itu, Boniperti, dikabarkan menelpon Brady dan sambil menangis mengatakan:

    “Maaf Brady, saya minta maaf. Kami membeli Platini.”

    Boniperti juga mengutarakan bahwa dirinya sangat tidak rela melepas Brady saat itu ke Sampdoria. Brady yang merupakan Juventino sejati memiliki kreatifitas dan kecerdasan yang berbeda dari pemain-pemain lain. Boniperti mengatakan, “Seandainya, seandainya saja aturan itu tidak berlaku, apa jadinya Juventus dengan Brady di belakang Platini dan Boniek?” Yap, mungkin another magical trio? Who knows.

    Sedikit soal Brady, sayang sekali pemain ini tidak masuk dalam daftar legenda Juventus karena profesionalismenya patut diacungi jempol! Pada musim 81/82, perjalanan scudetto Juventus sangatlah ketat. Bersaing dengan Fiorentina di papan klasmen untuk menjadi yang terbaik, Juventus menghadapi Catanzaro dipekan terakhirnya. Kemenangan adalah satu-satunya cara memastikan scudetto ke 20 (2 bintang!) mereka. Liam Brady menjadi penentu kemenangan setelah gol penaltinya berhasil memberikan Juventus 2 bintang pada seragam hitam putih mereka.

    Satu hal yang tidak banyak terungkap adalah, sebelum pertandingan melawan Catanzaro, Brady SUDAH tahu bahwa dirinya akan dijual karena Juventus mendatangkan Platini dan Boniek. Kenyataan itu tidak melukai hatinya, malah dia membuktikan profesionalismenya dengan mencetak gol semata wayang Juventus lewat titik putih (dimana dia bisa saja memboikotnya) dan memberikan salah satu kado terindah sepanjang sejarah Juventus: satu-satunya tim Italia yang memiliki DUA bintang! Nama Brady memiliki tempat tersendiri bagi Boniperti, kepergiannya sampai membuat salah satu presiden terbaik Juventus tersebut menangis!!

    KalininDevin

    1. Wow kisah yang sangat bagus Bro.. Memang Boniperti sukses di dalam dan luar lapangan. Tidak terbantahkan.

    2. wauw, cerita yg menarik,!
      mungkin saya yg keLahiran 1986 tidak mengetahui cerita tsb,
      tp tengs uda sharing yaa bos,

  2. sumpah baca ny merinding apa lg di saat boniperti memberikan kado terakhir ny ya itu del piero yg sblm ttd kontrak,di kasih liat piala2 yg pernah juve dapat.sungguh Storia di un Grande Amore…

  3. sumpah baca ny merinding apa lg di saat boniperti memberikan kado terakhir ny ya itu del piero yg sblm ttd kontrak,di kasih liat piala2 yg pernah juve dapat.sungguh Storia di un Grande Amore..

  4. “Rekor ini bertahan selama +/- 40 tahun sebelum dipecahkan oleh Seorang Pemain yang direkrut sendiri oleh Boniperti.”

    itu kata2 yang bikin terharu

  5. oke.. emm.. aduh.. mata gua kena pasir.. aduh.. kok jd berair gini… *usap air mata..

  6. tolong dong kalo bisa tampilin silsilah keluarga agneli dari jaman zero ampe hari ini!!
    graziiee FORZA JUVE!

  7. yang aku suka dr Juventus salah satunya adalah Menghargai pemain bukan sebagai barang jualan. Pemainpun rela dibayar lebih rendah dr klub lain krn kecintaannya pd Juventus. Profesional sejati selalu hadir dlm sejarah JUVENTUS…tengaoklah sekarang pd ADP.

  8. siapa sih ni yg lagi masak, sampe keluar air mata gw :’(

  9. Legendanya para legenda Juventus, bakti, kesetiaan, dan kecintaan nya terhadap Juventus merupakan hal yang belum ada tandingannya

  10. waktu liat peresmian Juventus Arena dari YouTube..
    aku denger kata – kata “Alla Juventus vincere non è importante. È l’unica cosa che conta.”
    “Bagi Juventus kemenangan tidak saja penting, tapi adalah satu-satunya hal yang berarti.”
    Giampiero Boniperti
    seluruh isi stadion bergemuruh….

    Juve memang selalu menciptakan pemain yang berkualitas dan sekaligus Setia kepada juventus…
    E’la Curve Juve Samo noi

  11. Gila sumpah terharu bacanya, g kebayang gimana perjuangan yang mereka berikan demi Juventus.

    Forza Juve 1897

Comments -49 - 0 of 11First« PrevNext »Last

Leave a Reply